SALAFY LOMBOK
Blog Ahlussunnah wal jamaah

Cari Blog Ini

Senin, 04 Juli 2011

Kewajiban Untuk Bertauhid

Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Merupakan suatu perkara yang tidak bisa disangkal, bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Yang mengingkari hal tersebut hanyalah segelintir orang. Itu pun karena mereka tidak menggunakan

akal sesuai dengan fungsinya. Sebab akal yang sehat akan mengetahui bahwa setiap yang tampak di alam ini pasti ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur dengan

sangat rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur. Tidak ada yang mengingkari perkara ini kecuali orang yang tidak berakal atau sombong dan tidak mau menggunakan pikiran sehat. Mereka tidaklah bisa dijadikan tempat berpijak dalam menilai.

Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta`ala. Inilah yang disebut dengan rububiyyah Allah. Tauhid rububiyyah adalah sebuah keyakinan yang diakui bahkan oleh kaum musyrikin. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31)

Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya menyembah kepada Allah subhanahu wa ta`ala saja. Allah subhanahu wa ta`ala telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rezeki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzaariyaat:56-58)

Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini dirusak oleh bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-pekataan yang indah-indah untuk menipu manusia” (Al-An’aam:112)

Tauhid adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Sedangkan kesyirikan adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam pikiran manusia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu. Tidak ada perubahan pada fitroh Allah.” (Ar-Ruum:30)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi” (HR.Al-Bukhari)

Berarti asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta`ala.

Kesyirikan adalah Sebab Perselisihan Manusia

Mulai masa Nabi Adam `alaihis-salam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu. maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

(Al-BaQaroh: 213)

Kesyirikan berawal pada masa kaum Nabi Nuh `alaihis-salam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh `alaihis-salam sebagai rasul yang pertama. Allah ta`ala berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (An-Nisaa`: 163)

Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh `alaihimas-salam adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam. Sebagaimana penjelasan Ibnu `Abbas radhiyallahu ta`ala `anhu.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa ini merupakan pendapat yang benar. (Al-MuntaQao min Ighootsatil Lahafaan hal. 440)

Ubay bin Ka`ab rodiyallahu ‘anhu membaca firman Allah ta`ala dalam surat Al-BaQaroh ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut,

“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Bacaan Ubay bin Ka`ab di atas dikuatkan oleh firman Allah ta`ala:

“Dahulu manusia hanyalah ummat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yuunus: 19)

Maksud pernyataan Ibnul Qayyim yang terdahulu bahwa para nabi diutus karena perselisihan manusia. Mereka telah keluar dari agama yang benar sebagaimana yang mereka pegangi sebelumnya.

Dahulu bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim `alaihis salam yaitu at-tauhid. hingga datang `Amr bin Luhai Al-Khuza`i lalu merubah agama Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Melalui orang ini tersebar penyembahan terhadap berhala di bumi Arab, terlebih khusus wilayah Hijaz. Maka Allah subhanahu wa ta`ala mengutus Nabi kita Muhammad shallallohu `alaihi wa sallam menjadi nabi yang terakhir.

Rasulullah shallallohu `alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak kembali agama tauhid dan runtuh segala penyembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta.

Selanjutnya generasi yang terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid. Namun setelah masa mereka berlalu umat ini kembali didominasi oleh berbagai kebodohan. Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru yang mengembalikan kepada syirik. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain cukup kuat mewarnai semangat keagamaan yang mereka miliki.

Sejarah penyebaran syirik terulang pada umat ini disebabkan para penyeru kesesatan. Sebab lain yang tak kalah penting adalah pembangunan kuburan-kuburan dalam rangka pengagungan terhadap para wali dan orang-orang shalih secara berlebihan.

Dengan demikian maka kuburan menjadi tempat pengagungan lantas menjadi berhala yang disembah selain Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan baik berupa doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. (lihat Kitabut-tauhid karya DR.As- Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 6-7)

Itulah fenomena sejarah perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit sekali di antara mereka orang yang mengerti tentang tauhid dan bersih dari syirik. As-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu As-Syaikh pernah berkata: “Di awal umat ini jumlah orang yang bertauhid cukup banyak sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sedikit”. (Qurratul-`Uyuun hal.24)

Kita mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin. Maka perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia.

Tauhid, Hak Allah atas Segenap Manusia

Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzaariyaat: 56)

Sebagian ulama menafsirkan kalimat:

“supaya menyembah-Ku”

dengan makna:

“supaya mentauhidkan-Ku”

(Lihat Al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)

Jika peribadahan kepada Allah tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al-An`aam:88)

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

Dua ayat ini merupakan peringatan Allah ta`ala kepada para nabi-Nya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan bersih dari syirik.

Tauhid adalah hak Allah subhanahu wa ta`ala sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya terwujud karena penciptaan Allah subhanahu wa ta`ala.

Allah menciptakan seluruhnya dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan. Maka layak bagi Allah subhanahu wa ta`ala untuk mendapatkan hak peribadahan dari para makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan sesuatu apa pun.

Allah telah menciptakan manusia setelah sebelumnya mereka bukan sesuatu yang dapat disebut. Keberadaan mereka di alam ini merupakan kekuasaan Allah yang disertai dengan berbagai curahan nikmat dan karunia-Nya.

Allah telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya, melewati proses kehidupan di dalam tiga kegelapan. Pada fase ini tidak ada seorang pun yang bisa menyampaikan makanan serta menjaga kehidupannya melainkan Allah subhanahu wa ta`ala. Ibunya sebagai penghubung untuk mendapatkan rezeki dari Allah ta`ala.

Tatkala lahir ke dunia, Allah ta`ala telah mentakdirkan baginya kedua orang tua yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.

Itu semua adalah rahmat dan keutamaan Allah ta`ala terhadap segenap makhluk yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang anak manusia lepas dari rahmat dan keutamaan Allah walaupun sekejap maka dia akan binasa. Demikian pula jika Allah ta`ala mencegah rahmat dan keutamaan-Nya dari manusia walaupun sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini.

Rahmat dan keutamaan Allah yang sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak Allah yang paling besar yaitu beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala tidak pernah meminta dari kita balasan apa pun kecuali hanya beribadah kepada-Nya semata.

Peribadahan kepada Allah bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan rahmat dan keutamaan Allah bagi kita. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam setiap hitungan nafas yang kita hembuskan maka di sana ada sekian rahmat dan keutamaan Allah yang tak terhingga dan ternilai.

Oleh karenanya nilai ibadah yang kita lakukan kepada Allah tenggelam tanpa meninggalkan bilangan di dalam lautan rahmat dan keutamaan-Nya yang tak terkejar oleh hitungan angka. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Ketika manusia beribadah kepada Allah tanpa berbuat syirik maka kemaslahatannya kembali kepada dirinya sendiri. Allah akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda dan seluruh amal keburukan mereka dengan yang setimpal.

Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan Allah dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya.

Manusia yang sadar tentang kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Itulah tauhid yang harus dibersihkan dari berbagai noda syirik. Kesyirikan hanya menjanjikan kesengsaraan hidup di alam akhirat.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzolim itu seorang penolong pun.” (Al-Maaidah: 72)

Sementara mentauhidkan Allah dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzoliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)

Kedzoliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas`ud. (HR. Bukhari)

Sebagai penutup kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk beramai-ramai menyambut keberuntungan ini. Jangan kita lalai sehingga jatuh ke dalam lubang kebinasaan yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Allah subhanahu wa taala berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Az-Zumar: 15)

Wallohu a`lam bish-shawaab.

Menggapai Keutamaan Tauhid

Dalam tulisan yang lalu telah dijelaskan tentang keharusan manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa berbuat syirik sedikit pun. Itulah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah. Seorang muslim adalah yang mengamalkan tauhid uluhiyyah setelah mengakui tauhid rububiyyah. Sehingga tauhid ini menjadi tema pembahasan kita.

Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid. Sebab tauhid merupakan inti ajaran agama samawi. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasannya tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku.” (Al-Anbiyaa`: 25)

Para nabi menyeru umatnya kepada tauhid karena memiliki keutamaan yang sangat besar. Nasib baik umat manusia di dunia dan akhirat bergantung kepada perealisasian tauhid. Demikian pula keselamatan hanya bisa diraih dengan bertauhid.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertauhid berbagai keutamaan. Semua itu sebagai pelecut bagi kaum muslimin untuk menggapai keutamaan tauhid tersebut.

Rasa Aman dan Petunjuk bagi Penganut Tauhid

Setiap penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa rasa aman dan petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian manusia untuk memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzoliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)

Yang dimaksud dengan kedzoliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu pernah berkata:

“Tatkala ayat ini turun, mereka bertanya: Siapa diantara kami yang tidak mendzolimi dirinya?Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: (Ayat ini) bukan seperti yang kalian fahami. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman: Sesungguhnya syirik adalah kedzoliman yang besar.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian berarti seorang yang tidak menjauhi syirik besar akan nihil perolehan rasa aman dan petunjuk secara mutlak.

Sebaliknya seorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa besar yang dilakukan secara terus-menerus.

Seorang yang bertauhid akan menggapai rasa aman dan petunjuk sesuai dengan nilai tauhid dan akan hilang sesuai dengan kadar maksiat. Ini apabila dia memiliki dosa-dosa dan tidak bertaubat darinya.

Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzolimi dirinya sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan seizin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Faathir: 32)

Orang yang mendzolimi dirinya adalah orang yang mencampur adukkan amalan baik dengan amalan buruk. Golongan ini berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka diampuni dosanya. Bila tidak maka Allah akan menyiksanya akibat dosanya pula. Namun Allah selamatkan dari kekalan dalam api neraka sebab dia memiliki tauhid. Sedangkan golongan yang pertengahan adalah orang yang hanya mengamalkan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram. Ini adalah keadaan Al-Abror (orang-orang yang berbuat kebaikan).

Adapun golongan yang bersegera kepada kebaikan adalah orang yang memiliki kesempurnaan iman dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk taat kepada Allah, baik dalam berilmu maupun beramal.

Dua golongan yang terakhir akan memperoleh keamanan dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat. Karena sebuah kesempurnaan akan memperoleh kesempurnaan pula. Dan sebuah kekurangan akan memperoleh kekurangan pula. Oleh sebab itu kesempurnaan iman akan mencegah pemiliknya dari berbagai maksiat dan siksanya. Hingga dia berjumpa dengan Rabbnya tanpa membawa satu dosa pun yang bisa mengundang siksa. Sebagaimana Allah ta`ala berfirman:

“Mengapa Allah akan mengadzab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?” (An-Nisaa`: 147)

Penjelasan di atas adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahumallah dan juga merupakan pendapat Ahlus-sunnah wal Jama`ah. (lihat Qurratul `Uyuun karya Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alus- Syaikh hal. 12-13, dinukil dengan sedikit perubahan)

Rasa aman dan petunjuk yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah rasa aman dan petunjuk di dunia dan akhirat. Ini pendapat yang benar menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 58)

Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertauhid rasa aman yang langgeng di dalam mengarungi kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur:55)

Dalam kehidupan akhirat seseorang yang bertauhid dengan sempurna akan menikmati rasa aman dari kekalan dalam api neraka dan ancaman adzab. Sementara orang yang tidak menyempurnakan tauhid karena melakukan dosa besar tanpa bertaubat akan mengecap rasa aman dari kekalan dalam api neraka tetapi tidak merasa aman dari ancaman adzab. Nasibnya tergantung pada kehendak Allah. Apakah Allah mau mengampuninya atau justru mengadzabnya. Allah ta`ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa syirik terhadap-Nya dan akan mengampuni yang lebih ringan dari itu bagi orang yang Dia kehendaki.” (An-Nisaa`: 116)

Seorang yang bertauhid akan menggapai petunjuk kepada syari`at Allah, baik yang berupa ilmu maupun amal dalam menapaki kehidupan dunia. Ketika di akhirat mereka akan memperoleh petunjuk ke jalan menuju surga. Allah ta`ala berfirman:

“(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (Ash-Shaaffaat: 22-23)

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka akan digiring ke jalan menuju neraka Al-Jahim di alam akhirat. Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diarahkan ke jalan menuju surga An-Na`im. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 57-58)

Bertauhid kepada Allah merupakan modal pokok untuk menggapai segala keberuntungan di dunia dan akhirat. Itulah rahmat Allah yang sangat luas bagi para pemeluk tauhid. Hak timbal balik ini merupakan ketetapan Allah bukan paksaan dan kehendak seorang pun. Allah membentangkan keutamaannya bagi siapa yang mau merealisasikan tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,

“Wahai Mu’adz! Tahukah engkau hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?”

Mu’adz menjawab: “Allah dan rasul- Nya yang lebih mengetahui.”

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kemudian bersabda,

“Hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba-Nya atas Allah adalah tidak menyiksa barangsiapa yang tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah tidak menyiksa seorang yang beribadah kepada-Nya tanpa berbuat syirik. Maka tidak berbuat syirik belum cukup untuk menghindarkan dari adzab Allah. Akan tetapi harus disertai dengan peribadahan kepada Allah.

Allah akan menyiksa seorang yang tidak mau beribadah kepada-Nya walaupun tidak berbuat syirik. Ini berarti ibadah kepada Allah dan tidak syirik harus dilaksanakan oleh seorang hamba secara berbarengan guna menggapai keutamaan ini. Sebab hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya dan terlepas dari berbagai noda syirik. Demikian pula status sebagai hamba Allah tidak akan melekat pada dirinya sampai dia mewujudkan peribadahan kepada Allah semata.

(lihat Al-Qaulul Mufid karya As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/ 42-43)

Tentu setiap muslim berkeinginan masuk surga disamping selamat dari adzab Allah. Masuk surga merupakan perkara yang sangat mereka idamkan. Surga adalah tempat kesudahan yang baik bagi mereka. Syarat memasukinya adalah dengan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tauhid sangat berpengaruh dalam menentukan nasib seorang muslim guna menggapai keutamaan ini. Pelaksanaan tauhid secara murni dan tidak berbuat syirik sama sekali dapat memudahkan jalan menuju surga tanpa penghalang. Maka tingkat keberhasilan ini diukur dengan nilai tauhid yang telah dicapai oleh masing-masing personil dalam menjalaninya.

Namun siapapun orangnya selama dia memiliki tauhid maka tempat perhentian terakhirnya adalah surga. Ini perkara pasti yang bersifat mutlak. Walaupun sebagian mereka harus terlebih dahulu melalui kenyataan pahit yaitu merasakan siksa neraka.

Yang demikian dikarenakan nilai tauhidnya tidak sempurna akibat bercampur dengan perbuatan dosa besar tanpa bertaubat kepada Allah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, ‘dan Isa adalah hambanya, rasul-Nya, kalimat yang dianugrahkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari sisinya, dan bersaksi bahwa (perihal) surga dan neraka itu adalah benar, Allah memasukkannya kedalam Surga walau bagaimana amalnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafidz ‘Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

“Makna sabda Rasulullah (… walau bagaimana amalnya) yaitu (amalnya) yang baik maupun yang buruk. Karena ahli tauhid mesti masuk surga. Mungkin pula maknanya: penduduk surga memasukinya sesuai dengan amalan masing-masing dari mereka dalam (menempati) tingkatan-tingkatannya.”

Sedangkan menurut Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang tertera dalam hadist ‘Ubadah khusus bagi seorang yang mengucapkan hal-hal yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu menggandengkan dua kalimat syahadat dengan hakikat keimanan dan tauhid yang terlampir dalam haditsnya. Sehingga dia memperoleh pahala yang bisa memperingan timbangan dosa-dosanya, serta mengundang keampunan, rahmat dan masuk surga pada tahapan yang pertama”.

(lihat Fathul Majid karya Asy-Syaikh Abdurrahman Alus Syaikh hal. 60)

As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masuk surga terbagi menjadi dua jenis:

Pertama, masuk yang sempurna. Tidak didahului dengan siksa bagi seorang yang menyempurnakan amalan.

Kedua, masuk yang kurang sempurna. Didahului dengan siksa bagi seorang yang kurang beramal.

Maka seorang mukmin bila dosa-dosanya mengalahkan kebaikan-kebaikannya, Allah akan menyiksanya sesuai dengan kadar perbuatannya dan bisa pula tidak menyiksanya jika berkehendak. Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan mengampuni yang lebih ringan dari itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa: 116)”

(lihat Al-Qaulul Mufid 1/ 72)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharomkan api neraka bagi orang yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah), dengan hal itu dia mencari wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Itban bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan hadits ini, ”Sabdanya, (..dengan hal itu dia mencari wajah Allah) merupakan hakikat makna yang ditunjukkan oleh kalimat La Ilaha Illallah. Yaitu berupa memurnikan peribadahan kepada Allah dan meninggalkan syirik.

Sikap jujur dalam mengucapkannya dan keikhlasan (memurnikan ibadah) adalah dua perkara yang saling terkait erat. Tidak didapati salah satu dari keduanya tanpa yang lain. Maka barangsiapa yang tidak ikhlas (memurnikan ibadah) berarti dia seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak jujur dalam mengucapkannya berarti dia seorang munafik.

Orang yang ikhlas dalam mengucapkannya adalah yang memurnikan ibadah kepada Zat Yang Berhak yaitu Allah bukan kepada yang selain-Nya. Inilah yang disebut dengan tauhid dan merupakan pondasi Islam. (lihat Qurratul Uyun halaman 18)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memaparkan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ‘Sesungguhnya seorang yang mencari wajah Allah harus menyempurnakan sarana-sarana yang mendukung pencariannya. Apabila dia menyempurnakannya maka neraka diharamkan atasnya secara mutlak.

Demikian pula jika dia melakukan kebaikan-kebaikan dengan sempurna maka neraka diharamkan atasnya secara mutlak. Namun jika dia kurang menyempurnakannya maka nilai pencariannya juga menjadi kurang. Sehingga kadar pengharoman neraka atasnya juga berkurang. Hanya saja tauhidnya mencegah dari kekekalan di dalam api neraka. Barangsiapa yang berzina, minum khomr atau mencuri, lalu dia mengucapkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dalam rangka mencari wajah Allah, berarti dia berdusta dalam persaksiannya. Karena nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda

“Tidaklah seseorang yang berzina sebagai mukmin ketika berzina”. (HR Bukhari-Muslim dari hadits Abu Huroiroh)

Apalagi bila persaksiannya itu ingin dianggap dalam rangka mencari wajah Allah.”

(lihat Al-Qaulul Mufid halaman 1/74).

Pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan tauhid bukan hanya sekedar sekilas info. Hendaknya berbagai keutamaan tauhid ini mampu membangkitkan semangat kita untuk lebih tekun mempelajari tauhid dan mengamalkannya. Merugilah orang-orang yang ilmunya tidak membuahkan amal.

Perumpamaannya ibarat sebuah pohon yang tidak menghasilkan buah. Bahkan lebih dari pada itu, orang yang tidak mewujudkan tauhid baik secara ilmu maupun amal niscaya akan sengsara di dunia sebelum akhirat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengungkap keutamaan tauhid dengan tujuan untuk membangkitkan semangat umatnya bertauhid secara benar dan sungguh-sungguh. Bukan dengan maksud agar mereka berpangku tangan dan merasa puas terhadap kelemahan dan kekurangan dalam bertauhid. Keutamaan tauhid merupakan anugerah besar yang Allah curahkan bagi orang yang bisa menggapainya dengan segala daya dan upaya mewujudkan tauhid.

Selain keutamaan tauhid yang telah kita utarakan dalam pembahasan lalu masih terdapat keutaman tauhid yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh, marilah kita menyimak hadits-hadits berikut ini,

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bahwasanya Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada anaknya saat akan wafat ‘Aku perintahkan engkau (berpegang) dengan laa ilaaha illallah. Karena langit yang tujuh dan bumi yang tujuh jika diletakan pada satu anak timbangan dan La ilaaha illallah pada satu anak timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada yang lainnya. Dan jika langit yang tujuh beserta bumi yang tujuh membentuk lingkaran yang tak diketahui tempat sambungannya, niscaya Laa ilaaha illallah akan memutuskannya’.” (HR.Ahmad dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya dalam As-Shahihah 1 / 210. Lihat takhrij Fathul Majid karya Asy-syaikh ‘Ali Sinan hal. 68)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Allah ta’ala berfirman, ‘Wahai Anak Adam jika seandainya engkau mendatangiku dengan sepenuh bumi kesalahan sedangakan engkau tidak berbuat syirik sedikit pun niscaya aku akan mendatangaimu dengan sepenuh bumi keampunan”. (HR. Turmudzi dan beliau menghasankannya, Imam Muslim meriwayatkannya dari hadits Ibnu Abbas dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhuma).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Pada hari kiamat nanti, seorang dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk. Lalu dibentangkan sembilan puluh sembilan gulungan miliknya. Setiap gulungan sejauh mata memandang.

Lalu dikatakan, ‘Adakah sesuatu yang engkau ingkari dari gulungan-gulungan ini? Apakah para pencatatku yang menjaga amalmu telah mendzolimimu?’

Dia menjawab, ‘Tidak ada wahai Rabbku’

Lalu dikatakan, ‘Apakah engkau memiliki sebuah udzur atau kebaikan?’

Maka orang ini merasa segan lantas menjawab, tidak ada.

Lalu dikatakan, ‘Benar, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan dan engkau tidak akan didzolimi pada hari ini.’

Kemudian dikeluarkan satu kartu miliknya yang bertuliskan, Asyhadu an La ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya).

Maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku apa nilai kartu ini dibanding gulungan-gulungan itu?’

Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzolimi.’

Kemudian diletakkan gulungan-gulungan itu pada satu anak timbangan dan kartu ini pada anak timbangan yang lain. Ternyata timbangan gulungan-gulungan itu ringan dan timbangan kartu ini berat”.

(HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, beliau berkata, shahih atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Albani dalam As-Shahihah 1 / 213 berkata, ‘Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya’. Lihat takhrij Fathul Majid hal.69)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits ini, “Amal-amal perbuatan tidaklah berbeda-beda keutamaannya dikarenakan bentuk dan bilangannya. Hanya saja keutamaannya berbeda-beda sebab perbedaan keyakinan dalam hati sehingga dua amalan bisa memiliki bentuk yang satu namun nilai perbedaan di antara keduanya sejauh antara langit dan bumi.”

Selanjutnya beliau berkata, “Perhatikan hadits tentang sebuah kartu yang diletakkan pada satu anak timbangan lalu diimbangi dengan timbangan sembilan puluh sembilan gulungan yang masing-masingnya sejauh mata memandang ternyata timbangan kartu itu berat dan timbangan gulungan-gulungan itu ringan. Maka pemiliknya tidak diadzab. Merupakan perkara yang dimaklumi bahwa setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini. Akan tetapi kebanyakan mereka masuk mereka dengan sebab dosa-dosanya”. (Lihat Fathul Majid hal 69)

Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Hasan Alus Syaikh menjelaskan, “Dalam mengucapkan dua kalimat syahadat harus memilki ilmu dan keyakinan tentang maknanya. Selanjutnya serta mengamalkan kandungannya sebagaimana firman Allah ta’ala,

“Berilmulah engkau bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah” (Muhammad:19).

“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedangkan mereka mengetahui (berilmu tentang yang dipersaksikan). (Az-Zukhruf:86)

Mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa mengerti maknanya atau tidak meyakininya maka hal itu tidak bermanfaat. Begitu pula jika tidak mengamalkan kandungannya yaitu sikap berlepas diri dari syirik dan memurnikan ucapan serta amalan untuk Allah. Maka tidak bermanfaat baik ucapan hati maupun lisan demikian pula amalan hati serta anggota badan. Hal yang dikemukakan di atas adalah kesepakatan para ulama”. (Lihat Fathul Majid hal 51).

Kita tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy-Syaikh Abdurrohman As-Sa’di dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid halaman 16-19. Di sini kita akan memaparkannya dengan lengkap mengingat bahwa penjelasan beliau sangat gamblang dan rinci tentang keutamaan-keutamaan tauhid.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Termasuk dari keutamaan tauhid adalah:

Dapat menghapuskan dosa-dosa.

Merupakan sebab yang paling besar untuk melonggarkan kesusahan-kesusahan serta bisa menjadi penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Mencegah kekekalan dalam api neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam sebesar biji sawi keimanan. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak bila dia menyempurnakannya dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.

Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.

Merupakan sebab satu-satunya untuk menggapai ridho Allah dan pahala-Nya. Orang yang paling bahagia yang memperoleh syafaat Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.

Penerimaan seluruh amalan dan ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi tergantung kepada tauhid seseorang. Demikian pula penyempurnaannya dan pemberian ganjarannya. Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap tatkala tauhid dan keikhlasan kepada Allah menguat. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

Memudahkan seorang hamba untuk melakukan kebaikan- kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran. Serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah. Seorang yang ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid merasa ringan untuk melakukan ketaatan-ketaatan. karena dia mengharapkan pahala dan keridhoan Rabbnya. Baginya terasa ringan meninggalkan hawa nafsu yang berupa maksiat. karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa Rabbnya.

Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang, Allah menjadikan pemiliknya mencintai keimanan serta menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah menjadikan pemiliknya membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Lalu Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang terbimbing.

Meringankan segala kesulitan dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semuanya itu sesuai dengan penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba. Sesuai pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan dan rasa sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan ridho terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.

Melepaskan seorang hamba dari perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan dan beramal untuk makhluq. Inilah keagungan dan kemulian yang hakiki. Bersamaan dengan itu dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah. tidak mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada allah. Dengan demikian sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang dan terealisasi lengkap dengan keikhlasan yang sempurna, amalnya yang sedikit berubah menjadi banyak. Segenap amal dan ucapannya berlipat ganda tanpa batas dan hitungan. Kalimat ikhlas (Lailaha illallah) menjadi berat dalam timbangan amal hambanya ini sehingga tak terimbangi oleh langit-langit dan bumi beserta seluruh makhluq penghuninya. Perkara ini sebagaimana tertera dalam hadits Abi Sa’id dan hadits tentang sebuah kartu yang bertuliskan La ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan sembilan puluh sembilan gulungan catatan dosa dan setiap gulungan sejauh mata memandang.

Yang demikian karena keikhlasan orang yang mengucapkannya. Berapa banyak orang yang mengucapkannya tetapi tidak mencapai prestasi ini. Sebab di dalam hatinya tidak terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti atau mendekati yang terdapat dalam hati hamba-Nya ini. Ini termasuk keutamaan tauhid yang tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.

Allah menjamin kemenangan dan pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan, petunjuk, kemudahan, perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan ucapan dan perbuatan bagi pemilik tauhid.

Allah menghindarkan orang-orang yang bertauhid dan beriman dari keburukan-keburukan dunia dan akherat. Allah menganugerahkan atas mereka kehidupan yang baik, ketenangan kepada-Nya dan kenyamanan dengan mengingat-Nya.

Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan-keterangan ini baik dari Al-Quran maupun As-sunnah. Wallahu a’lam”

Dengan demikian, rasanya cukup besar dan banyak keutamaan yang Allah limpahkan bagi para hambanya yang bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa menggapai seluruh keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik orang-orang yang mampu menyempurnakan tauhid dengan sepenuhnya. Tentunya manusia bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah ta’ala. Mereka tidak berada pada satu level. Masing-masing menggapai keutamaan tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid. Allah berfirman:

“Itulah keutamaan Allah, Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan Allah adalah dzat yang maha memliki keutamaan yang besar.”(Al-Jumuah:4)

Merealisasikan Tauhid

Pembahasan ini merupakan tema yang cukup menarik bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya orang yang beriman ingin membuktikan keimanannya. Dengan demikian dia dinobatkan sebagai seorang mu’min sejati. Tidak ada jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini melainkan dengan merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.

Merealisasikan tauhid secara sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari campuran syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Peribadahan yang dilakukan harus terbebas pula dari kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus menerus. Maka seorang yang berkemauan untuk merealisasikan tauhid secara sempurna harus memenuhi kriteria sebagaimana yang diutarakan tadi.

Merealisasikan tauhid artinya menunaikan dua kalimat syahadat dengan sebaik-baiknya. Yang dimaksud yaitu mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyah, uluhiyyah, serta nama dan sifat-Nya. Termasuk pula mentauhidkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara mengikutinya. Pengertiannya adalah dia tidak mengikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah yang disebut dengan tauhid mutaba’ah.

Seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat hendaknya membersihkan tauhid dari berbagai jenis kesyirikan dan dosa besar yang tidak disertai dengan bertaubat. Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid La ilaha ilallah. Di samping itu dia harus berlepas diri dari segala kebid’ahan (urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid Muhammadur Rasulullah. Maka demikianlah makna merealisasikan tauhid secara sempurna.

Di samping terbebas dari berbagai jenis syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi, seorang yang bertauhid harus terlepas pula dari segala kebid’ahan dan dosa besar yang diperbuat dengan terus menerus tanpa bertaubat. Karena melaksanakan sebuah kebid’ahan berarti mempersekutukan Allah dengan hawa nafsu. Demikian pula makna yang terkandung dalam memperbuat sebuah dosa besar. (Penjelasan ini diterangkan oleh Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh di kaset pelajaran Kitabut-Tauhid).

Tingkatan Merealisasikan Tauhid

Merealisasikan tauhid dapat dibagi menjadi dua tingkatan:

1. Tingkat yang Wajib

Yaitu seseorang merealisasikan tauhid dengan membersihkan dan memurnikannya dari berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus-menerus. Ini merupakan tingkat yang wajib bagi orang yang ingin merealisasikan tauhid dengan sempurna.

2. Tingkat yang Mustahab

Tingkat ini digapai setelah menunaikan tingkat yang pertama. Oleh sebab itu tingkat ini lebih tinggi derajatnya dari tingkat yang pertama. Seorang yang ingin menduduki tingkat ini harus melepaskan seluruh wujud penghambaan diri, keinginan, dan tujuan yang menghadap kepada selain Allah. Sehingga dirinya tidak menghadap, berkeinginan dan bertujuan untuk selain Allah sedikit pun dan sekecil apapun. Maka hawa nafsu menjadi budaknya, sedangkan dirinya menjadi hamba Allah secara total dan utuh.

Dengan demikian, seorang yang menempati tingkat ini tidak hanya meninggalkan berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Namun dia juga meninggalkan perkara-perkara yang makruh, bahkan sebagian perkara mubah yang dikhawatirkan menggiring kepada perkara harom. Inilah yang diungkapkan oleh sebagian ulama dengan pernyataan

“Mereka meninggalkan perkara yang tidak mengandung dosa karena khawatir terdapat dosa di dalamnya”.

Tingkatan kedua ini adalah wujud maksimal untuk merealisasikan tauhid secara sempurna dalam meraih derajat yang setingi-tingginya ketika masuk surga. Sedangkan tingkat yang pertama adalah standar untuk masuk surga tanpa adzab dan perhitungan amal.

Tentunya kedua tingkatan di atas memiliki perbedaan pula dalam mengibadahi Allah subhanahu wat’ala. Jika tingkat pertama hanya mengibadahi Allah dengan perkara-perkara yang wajib saja.

Beda halnya dengan tingkat kedua. Pada tingkat ini peribadahan kepada Allah tidak hanya sebatas dalam perkara-perkara yang wajib saja tetapi juga dalam perkara-perkara yang mustahab. Tingkat pertama disebut dengan Al-Muqtasid sedangkan tingkatan kedua disebut dengan As-Saabiq bil Khairot. Wallahu a’lam.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Profil Muwahhid Sejati

Allah berfirman dalam Al-Quranul Karim,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (QS. An-Nahl: 120)

Di sini Allah memberitakan tentang profil Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang merealisasikan tauhidnya secara sempurna. Beliau adalah seorang pemimpin dan teladan dalam kebaikan-kebaikan terutama perkara tauhid. Beliau adalah seorang yang tunduk dan patuh kepada Allah dengan terus-menerus dalam seluruh situasi, kondisi dan tempat.

Sifat lain yang beliau miliki yaitu menghadapkan diri kepada Allah dengan sepenuhnya tanpa berpaling sedikit pun kepada yang selain-Nya. Seluruh sifat beliau ini merupakan hakikat penerapan tauhid yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada ayat di atas diterangkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin). Kandungan ayat ini mencakup dua makna:

1. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan musyrikin secara fisik. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri, tidak bergabung dan berkumpul bersama-sama kaum musyrikin dengan jasadnya.

2. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan musyrikin secara sifat dan perilaku. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri dan tidak melakukan kesyirikan sama sekali. Demikian pula beliau ‘alaihis salam tidak mengikuti adat kebiasaan kaum musyrikin yang bergelimang dengan kebid’ahan dan kemaksiatan di samping kesyirikan.

(Seluruh keterangan yang lalu disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alus Syaikh di kaset Kitabut Tauhid).

Pada ayat di atas dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai satu umat padahal beliau sendirian. Maksudnya agar orang-orang yang menempuh jalan tauhid tidak merasa ngeri karena jumlah penganutnya sedikit.

Selanjutnya beliau ‘alaihis salam dikukuhkan oleh Allah sebagai seorang yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Berarti beliau ‘alaihis salam bukan seorang yang tunduk kepada penguasa atau orang kaya yang punya harta dan yang selain mereka. Maka tidak ada yang selain mereka.

Maka tidak ada yang bisa menguasai beliau ‘alaihis salam selain Allah, baik dari golongan para penguasa maupun para orang kaya yang punya harta dan yang selain mereka. Beliau ‘alaihis salam tidak bisa dibelai dengan kekuasaan, harta atau yang selainnya. Karena pendirian beliau ini Allah menyebutnya sebagai seorang yang patuh dan tunduk kepada-Nya.

Berikutnya beliau ‘alaihis salam disifatkan sebagai seorang yang hanif. Maksudnya beliau ‘alaihis salam seorang yang hanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari yang selain-Nya tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri. Demikianlah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menjelaskan tentang sifat-sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagaimana pada ayat di atas.

Kriteria Orang-orang Yang Bertauhid

Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim,

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. “(Al-Mu’minun:57-61)

Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.

Tentang firman Allah,

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berbuat baik dan beramal shalih karena takut terhadap Rabb mereka dan khawatir ditimpa oleh sesuatu yang mereka tidak inginkan. Inilah kondisi seorang mukmin, berbuat kebaikan karena takut kepada Allah dan khawatir tidak memperoleh apa yang mereka inginkan”.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan, “Seorang mu’min mengumpulkan antara perbuatan baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan seorang munafik mengumpulkan antara perbuatan jelek dan rasa aman dari siksa Allah.”

Tentang firman Allah,

“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka”

Perlu diketahui bahwa beriman dengan ayat-ayat Allah mencakup dua hal:

1. Beriman dengan ayat Allah Al-Kauniyyah.

Maksudnya beriman bahwa segala yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah.

2. Beriman dengan ayat Allah Asy-Syar’iyyah.

Maksudnya beriman kepada syariat yang Allah turunkan melalui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Ayat Allah Asy-Syar’iyyah mengandung tiga hal:

a. Perintah Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dicintai Allah.

b. Larangan Allah yang disyari’atkan. Ini adalah perkara yang dibenci Allah.

c. Kabar yang diberitakan oleh Allah dalam syari’at-Nya. Kabar ini adalah benar dan tidak mungkin dusta sebab datangnya dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Tentang firman Allah,

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”

Perlu diketahui bahwa tidak berbuat syirik yang dimaksud dalam ayat ini adalah makna yang menyeluruh dan mencakup semua jenisnya. Artinya tidak berbuat syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Ini adalah sifat seorang yang merealisasikan tauhid secara sempurna.

Jika dinyatakan “tidak berbuat syirik” sedikit pun, berarti terlepas pula dari perbuatan bid’ah dan maksiat. Sebab berbuat bid’ah dan maksiat merupakan realisasi menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut dengan syirik. Coba perhatikan firman Allah ta’ala,

“Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)-nya”. (Al-Jatsiyah:23)

Wallahu a’lam bishshawaab.
Baca SelengkapnyaKewajiban Untuk Bertauhid

Studi Kritis Atas Kesesatan Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” [HOT!!]

Penulis Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi

Telah sampai kepada kami beberapa usulan pembaca agar kami mengkritik sebuah buku yang beredar akhir-akhir ini yang dipublikasikan secara gencar dan mendapatkan sanjungan serta kata pengantar dari para tokoh. Oleh

karenanya, untuk menunaikan kewajiban kami dalam menasihati umat, kami ingin memberikan studi kritis terhadap buku ini, sekalipun secara global saja sebab tidak mungkin kita mengomentari seluruh isi buku rang penuh dengan syubhat tersebut dalam majalah kita yang terbatas ini. Semoga Alloh menampakkan kebenaran bagi kita dan melapangkan hati kita untuk menerimanya.

JUDUL BUKU DAN PENULISNYA

Judul buku ini adalah Sejarah Berdarah Sekfe Salafi Wahabi, ditulis oleh Syaikh Idahram, penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, cetakan pertama, 2011. Buku ini mendapatkan rekomendasi tiga tokoh agama yang populer namanva yaitu KH. Dr. Said Agil Siraj, KH. Dr. Ma’ruf Amin, dan Muhammad Arifin Ilham.

AQIDAH WAHABI ADALAH TAJSIM?

Pada hlm. 234 penulis mengatakan:

Akidah Salafi Wahabi adalah aqidah Tajsim dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) yang sama persis dengan akidah orang-orang Yahudi. Dalil-dalil mereka begitu rapuhnya, hanya mengandalkan hadits-hadits ahad dalam hal akidah.

Jawaban:

Ini adalah tuduhan dusta, sebab aqidah mereka dalam asrna’ wa shifat sangat jelas mengimani nama dan sifat Alloh yang telah disebutkan al-Qur’an dan hadits yang shohih tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (pengingkaran), takyif (menanyakan hal/kaifiat), maupun tamtsil (penyerupaan).[1] Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh:

“Tidak ada yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Inilah aqidah ulama-ulama salaf, di antaranya al-Imam asy-Syafi’i, beliau pernah berkata:

“Kita menetapkan sifat-sifat ini yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dan kita juga meniadakan penyerupaan sebagaimana Alloh meniadakan penyerupaun tersebut dari diri Nya dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.’ (QS. Asy-Syuro [42 : 11).[2]

Namun, jangan merasa aneh dengan tuduhan ini, karena demikianlah perilaku ahli ahwa’ semenjak dulu. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata, “Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengartikannya secara zhohirnya. Akan tetapi, mereka tidak rnenggambarkan bagaimananya/bentuknya sifat¬sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khowarij mengingkari sifat-sifat Alloh dan tidak mengartikannya secara zhohirnya. Lucunya, mereka menyangka bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).”[3]

Semoga Alloh merahmati al-Imam Abu Hatim ar-Rozi yang telah mengatakan, “Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari Ahli Sunnah dengan Musyabbihah.”[4]

lshaq bin Rohawaih mengatakan, “Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh Ahli Sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’aththilah (menidakan/mengingkari sifat bagi Alloh).”[5]

PEMBAGIAN TAUHID BID’AH?

Pada him. 236 penulis mengatakan:

Pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyah dan tauhid Rububiyah diciptakan oleh Ibnu Taimiyyah al-Harroni (w. 728 H) setelah 8 abad berlalu dari masa Rasulullah. Pernyataan yang seperti ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in maupun ulama-ulama salaf terdahulu, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, bahkan tidak terdapat juga dalam karya murid-murid Imam Ahmad yang terkenal seperti Ibnul Jauzi dan al-Hafizh Ibnu Katsir. Demikianlah Salafi Wahabi mengklaim selalu mengikuti salaf shalih tetapi kenyataannya tidak ada seorangpun dari Salaf Shalih yang membagi tauhid kepada pembagian seperti ini. Lagi-lagi, Salafi Wahabi melempar Al-Qur’an, Sunnah dan Salaf Shalih ke tong sampah.

Jawaban:

Pembagian para ulama bahwa tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma’ wa Shifat adalah berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi Pembagian ini bukanlah perkara baru (baca: bid’ah)[6], tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan perbuatan para ulama ahli Bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fill, dan huruf.[7]

Bahkan, banyak sekali ayat-ayat yang meng¬gabung tiga macam tauhid ini bagi prang yang mau mencermatinya, seperti firman Alloh:

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam [79]: 65)

Firman-Nya “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya” menunjukkan tauhid rububiyyah. “Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya” menunjukkan tauhid uluhiyyah. “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang serupa denganNya” menunjukkan tauhid asma’ wa shifat.[8]

Lebih dari itu -jika kita jeli- surah pertama dalam al-Qur’an (al-Fatihah) mengandung tiga jenis tauhid ini, juga akhir surat dalam al-Qur’an (an-Nas). Seakan-akan hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa kandungan al-Qur’an adalah tiga jenis tauhid ini.[9] Syaikh Hammad al-Anshori berkata, “Alloh membuka kitab-Nya dengan Surah aI-Fatihah yang berisi tentang pentingnya tauhid dan menutup kitab-Nya dengan Surah an-Nas yang berisi tentang pentingnya tauhid. Hikmahnya adalah wahai sekalian manusia sebagaimana kalian hidup di atas tauhid maka wajib bagi kalian mati di atas tauhid.”[10]

Demikian juga, banyak ucapan para ulama salaf yang menunjukkan pembagian ini, seandainya kami menukilnya niscaya tidak akan termuat dalam majalah ini. Dalam kitabnya al-Mukhtashorul Mufid fi’ Bayani Dalail Aqsami Tauhid, Syaikh Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad menukil ucapan-ucapan ulama salaf yang menetapkan klasifikasi tauhid menjadi tiga ini, seperti al-Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Ibnu Mandah (182 H), Ibnu Jarir (310 H), ath-Thohawi (w. 321 H), Ibnu Hibban (354 H), Ibnu Baththoh (387 H), Ibnu Khuzaimah (395 H), ath-Thurtusi (520 H), al-Qurthubi (671 H). Lantas, akankah setelah itu kita percaya dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa klasifikasi ini baru dimunculkan oleh Ibnu Taimiyyah pada abad kedelapan Hijriah seperti pernyataan penulis?! Pikirkanlah wahai orang yang berakal!!!

KAKAK SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Pada hlm. 34 penulis mengatakan:

Sebaliknya, karena keyakinan menyimpangnya itu, kakaknya yang bersama Sulaiman ibnu Abdil Wahhab mengkritik fahamnya yang nyeleneh dengan begitu pedas, melalui dua bukunya, ash-Shawaiq al-Ilahiyyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyah dan kitab Fashlu al-Khitab fi ar-Radi ‘ala Muhammad bin Abdil Wahhab. Dua bukunya itu dirasa penting untuk di tulis, melihat adiknya yang sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam dan akidah umat secara umum.

Jawaban:

Benar, kami tidak mengingkari bahwa Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, saudara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab termasuk orang yang menentang dakwah beliau. Namun, ada dua poin yang perlu diperhatikan bersama untuk menanggapi hal ini:

Pertama: Antara Nasab dan Dakwah yang Benar

Kita harus ingat bahwa adanya beberapa kerabat atau keluarga yang menentang dakwah tauhid bukanlah suatu alasan batilnya dakwah yang haq. Tidakkah kita ingat bahwa para nabi, para sahabat, para ahli tauhid, dan sebagainya, ada saja sebagian dari keluarga mereka baik bapak, anak, saudara, atau lainnya yang memusuhi dakwah mereka?! Kisah Nabi Nuh dengan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim dan ayahnya, Nabi Muhammad dan pamannya merupakan kisah yang populer di kalangan masyarakat. Apakah semua itu menghalangi kebenaran dakwah tauhid, wahai hamba Alloh?! Sungguh benar sabda Nabi :

“Barang siapa amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya.”[11]

Kedua: Kembalinya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab

Mayoritas ulama[12] mengatakan bahwa Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertaubat dan menerima dakwah tauhid, sebagaimana disebutkan Ibnu Ghonnam[13], Ibnu Bisyr[14], Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’ad as-Syuwa’ir[15], dan sebagainya. Apakah hal ini diketahui oleh musuh-musuh dakwah?! Ataukah kebencian telah mengunci hati mereka?! Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Syaikh Mas’ud an-Nadwi, “Termasuk orang yang menentang dakwah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahhab (wafat 1208 H) yang menjadi qadhi di Huraimila’ sebagai pengganti ayahnya. Dia menulis beberapa tulisan berisi bantahan kepada saudaranya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang dipenuhi dengan kebohongan. Dan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ghonnam bahwa dia menyelisihi saudaranya hanya karena dengki dan cemburu saja. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menulis bantahan terhadap tulisan-tulisannya, tetapi pada akhirnya Alloh memberinya hidayah, (sehingga dia) bertaubat dan menemui saudaranya di Dar’iyyah pada tahun 1190 H yang disambut baik dan dimuliakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ada buku Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang tercetak dengan judul ash-Showa’iq IIahiyyah fi ar-,Roddi ‘ala Wahhabiyyah. Musuh-musuh tauhid sangat gembira dengan buku ini, namun mereka sangat malu untuk menyebut taubatnya Sulaiman.”[16]

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU?

Pada him. 34 penulis mengatakan:

Selain itu, Ibnu Abdul Wahhab juga gemar membaca berita dan kisah-kisah para pengaku kenabian seperti Musailamah al-Kadzdzab, Sajah, Aswad al’Unsi dan Thulaihah al-Asadi.

Jawaban:

Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata membantah tuduhan ini: “lni juga termasuk kebohongan dan kedustaan. Yang benar, beliau gemar membaca kitab-kitab tafsir dan hadits sebagaimana beliau katakan sendiri dalam sebagian jawabannya, ‘Dalam memahami Kitabulloh, kita dibantu dengan membaca kitab-kitab tafsir populer yang banyak beredar, yang paling bagus menurut kami adalah tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thobari dan ringkasannya karya Ibnu Katsir asy-Syafi’i, demikian pula al-Baidhowi, aI-Baghowi, Al-Khozin, al-Jalalain, dan sebagainya. Adapun tentang hadits, kita dibantu dengan membaca syarah-syarah hadits seperti syarah al-Qostholani dan al-Asqolani terhadap Shohih al-Bukhori, an-Nawawi terhadap (Shohih) Muslim, al-Munawi terhadap al-jami’ ash-Shoghir, dan kitab-kitab hadits lainnya, khususnya kutub sittah (enam kitab induk hadits) beserta syarahnya, kita juga gemar menelaah seluruh kitab dalam berbagai bidang, ushul dan kaidah, siroh, shorof, nahwu, dan semua ilmu umat’.”[17]

PEMBUNUHAN DAN PENGKAFIRAN

Pada hlm. 61-138 penulis menguraikan panjang lebar bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan pembunuhan dan pengkafiran terhadap kaum muslimin, termasuk ulama. Inilah yang menjadi inti buku tersebut.

Jawaban:

Demikian penulis artikel memuntahkan isi hatinya tanpa kendali!! Aduhai alangkah murahnya dia mengobral kebohongan dan melempar tuduhan!! Tidakkah dia sedikit takut akan adzab dan mengingat akibat para pendusta yang akan memikul dosa?! Tidakkah dia menyadari bahwa dusta adalah ciri utama orang-orang yang hina?!!

Tuduhan yang satu ini begitu laris-manis tersebar semenjak dahulu hingga kini, padahal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menepis tuduhan ini dalam banyak kesempatan. Terlalu panjang kalau saya nukilkan seluruhnya,[18] maka kita cukupkan di sini sebagian saja:

Dalam suratnya kepada penduduk Qoshim, beliau memberikan isyarat terhadap tuduhan musuh bebuyutannya (Ibnu Suhaim), dan berlepas diri dari tuduhan keji yang dilontarkan kepada beliau. Beliau berkata, “Alloh mengetahui bahwa orang tersebut telah menuduhku yang bukan-bukan, bahkan tidak pernah terbetik dalam benakku, di antaranya dia mengatakan bahwasanya aku mengatakan, ‘Manusia sejak 600 tahun silam tidak dalam keislaman, aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orang-orang sholih, aku mengkafirkan al-Bushiri, aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Alloh….’ Jawabanku terhadap tuduhan ini, ‘Maha Suci Engkau ya Robb kami, sesungguhnya ini kedu¬staan yang amat besar.’”[19]
Demikian juga dalam suratnya kepada Syaikh Abdurrohman as-Suwaidi -salah seorang ulama Irak- mengatakan bahwa semua tuduhan tersebut adalah makar para musuh yang ingin menghalangi dakwah tauhid. Beliau berkata, “Mereka mengerahkan Bala tentaranya yang berkuda dan berjalan kaki untuk memusuhi kami, di antaranya dengan menyebarkan kebohongan yang seharusnya orang berakaI pun malu untuk menceritakannya, apalagi menyebarkannya, salah satunya adalah apa yang Anda sebutkan, yaitu bahwa saya mengkafirkan seluruh manusia kecuali yang mengikuti saya, dan saya menganggap bahwa pernikahan mereka tidak sah. Aduhai, bagaimana bisa haI ini diterima oleh seorang yang berakal sehat? Adakah seorang muslim, kafir, sadar maupun gila sekalipun yang berucap seperti itu?!”[20]
Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan di atas, “Adapun tuduhan yang didustakan kepada kami dengan tujuan untuk menutupi kebenaran dan menipu manusia bahwa kami mengkafirkan manusia secara umum, manusia yang semasa dengan kami dan orang-orang yang hidup setelah tahun enam ratusan kecuali yang sepaham dengan kami. Berekor dari itu, bahwa kami tidak menerima bai’at seorang kecuali setelah dia mengakui bahwa dirinya dahulu adalah musyrik, demikian pula kedua orang tuanya mati dalam keadaan syirik kepada Alloh … semua ini hanyalah khurofat yang jawaban kami seperti biasanya, ‘Maha Suci Engkau ya Alloh, ini adalah kebohongan yang nyata.’ Barang siapa menceritakan dari kami seperti itu atau menisbatkan kepada kami maka dia telah berdusta dan berbohong tentang kami. Barang siapa menyaksikan keadaan kami dan menghadiri majelis ilmu kami serta bergaul dengan kami, niscaya dia akan mengetahui secara pasti bahwa semua itu adalah tuduhan palsu yang dicetuskan oleh musuh-musuh agama dan saudara-saudara setan untuk melarikan manusia dari ketundukan dan memurnikan tauhid hanya kepada Alloh saja dengan ibadah dan meninggalkan seluruh jenis kesyirikan.”[21]
Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata, “Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meniti jalan yang ditempuh oleh Nabi para sahabat, dan para imam pendahulu. Beliau tidak mengkafirkan kecuali orang yang telah dikafirkan Allah dan Rosul-Nya dan disepakati kekufurannya oleh umat. Beliau mencintai seluruh ahli Islam dan ulama mereka. Beliau beriman dengan setiap kandungan al-Qur’an dan hadits shohih. Beliau juga melarang keras dari menumpahkan darah kaum muslimin, merampas harta dan kehormatan mereka. Barang siapa menisbatkan kepada beliau hal yang berseberangan dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah dari kalangan salaf umat ini maka dia telah dusta serta berkata tanpa dasar ilmu.”[22]

BEKERJA SAMA DENGAN INGGRIS MERONGRONG KEKHOLIFAHAN TURKI UTSMANI

Pada hlm. 120 penulis membuat judul “Wahabi bekerja sama dengan inggris merongrong kekholifahan Turki Utsmani”.

Jawaban:

Demikianlah, mereka tidak memiliki modal dalam dialog ilmiah kecuali hanya tuduhan dan ke-dustaan semata. Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan; “Semua bentuk kesyirikan dan beragam corak kebid’ahan dibangun di atas kebohongan dan tuduhan dusta. Oleh karenanya, setiap prang yang semakin jauh dari tauhid dan sunnah, maka dia akan lehih dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan kedustaan.”[23] Dan alangkah benarnya ucapan al-Hafizh Ibnul Qoyyim

Janganlah engkau takut akan tipu daya musuh

Karena senjata mereka hanyalah kedustaan[24]

Beberapa sosok setan berwujud manusia dari orang-orang Eropa berpikir tentang akibat yang akan menimpa mereka jika dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung pemerintahan Su’ud (Saud) pertama memperluas pengaruhnya. Mereka melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah Su’ud akan mengancam kepentingan mereka di kawasan timur secara umum.

Oleh karma itu, tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan pemerintahan ini. Mereka pun menempuh berbagai daya dan upaya di dalam menghancurkan dakwah salafiyyah ini, di anta-ranya adalah:

Pertama: Penebaran opini publik di tengah negeri Islam melawan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka bangkitlah para penganut bid’ah dan khurofat memerangi dakwah Syaikh. Mereka adalah golongan mayoritas di saat itu, yang paham quburiyyun, khurofiyyun, bid’ah, dan syirik telah mendarah daging di dalarn hati mereka, bahkan parahnya kesultanan Ustmaniyyah generasi akhir adalah termasuk pemerintahan yang mendukung kesyirikan dan kebid’ahan ini. Ini semua terjadi setelah Inggris dan Francis menyebarkan fatwa yang mereka ambil dari ulama su’ (jahat) yang memfatwakan bahwa apa yang didakwahkan oleh Syaikh al-Imam adalah rusak.[25]

Kedua: Mereka menebarkan fitnah antara gerakan Syaikh al-Imam dengan pemimpin kesul-tanan Utsmaniyyah. Orang-orang Inggris dan Francis menebarkan racun ke dalam pikiran Sultan Mahmud II, bahwa gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertujuan untuk memerdekakan jazirah Arab dan memisahkan diri dari kesultanan. Sultan pun merespons dan herupaya memberangus gerakan Syaikh, padahal seharusnya beliau meragukan nasihat dari kaum kuffar ini, lalu meneliti dan melakukan investigasi terhadap berita ini.[26]

Sesungguhnya Inggris dan Francis mulai dari awal telah membenci gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, terlebih setelah pemerintah Alu (KeIuarga) Su’ud beserta orang-orang Qowashim mampu melakukan serangan telak terhadap Armada Inggris pada tahun 1860 M sehingga perairan Teluk berada di bawah kekuasaannya.[27] Sesungguhnya asas-asas Islam yang murni menjadi fondasi dasar pemerintahan Su’ud pertama, dan tujuan utama didirikannya negara ini adalah untuk melawan kejahatan orang-orang asing di kawasan itu.[28]

Sungguh sangat “jauh panggang dari api” apabila dikatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah dakwah boneka atau antek-antek Inggris, padahal dengan menyebarnya dakwah yang diberkahi ini ke pelosok dunia lain, melahirkan para pejuang-pejuang Islam. Di India, Syaikh Ahmad Irfan dan para pengikutnya adalah gerakan yang pertama kali membongkar kebobrokan Mirza GhuIam Ahmad al-Qodiyani (pendiri gerakan Ahmadiyah) yang semua orang tahu bahwa Qodiyaniyah ini adalah kepanjangan tangan dari kolonial Inggris. Mereka juga memekikkan jihad memerangi kolonial Inggris saat itu di negeri mereka.[29] Di Indonesia, tercatat ada Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Nan Gapuk, dan selainnya yang memerangi bid’ah, khurofat, dan maksiat kaum adat sehingga meletuslah Perang Padri, dan mereka semua ini adalah para pejuang Islam yang memerangi kolonialisme Belanda.[30] Belum lagi di Mesir, Sudan, Afrika, dan belahan negeri lainnya, yang mereka semua adalah para pejuang Islam yang membenci kolonialisme kaum kuffar Eropa.”[31]

CIRI KHAS WAHABI CUKUR PLONTOS?

Pada hlm. 139-180 penulis membawakan judul hadits-hadits Rosululloh tentang salafy wahabi, di antaranya pada hlm. 164 penulis mengatakan ciri¬ciri mereka adalah cukur plontos; sehingga pada him. 167 penulis mengatakan:

Ini adalah teks hadits yang sangat jelas tertuju kepada faham Muhammad bin Abdul Wahhab. Semasa hidupnya dahulu, dia telah memerintahkan setiap pengikutnya untuk mencukur habis rambut kepalanya sebelum mengikuti fahamnya.

Jawaban:

Tuduhan ini sangat mentah, tujuan di balik itu sangat jelas, yaitu melarikan manusia dari dakwah yang disebarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Aduhai, alangkah beraninya penulis dalam memanipulasi hadits Rosululloh dan menafsirkannya sesuai dengan selera hawa nafsunya semata!! Seperti inikah cara Anda dalam beragumentasi wahai hamba Alloh?!!

Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan bahwa ulama dakwah mengkafirkan orang yang tidak mencukur rambut kepalanya, “Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan tentang kami. Seorang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini, sebab kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasikan kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang ma’lum bi dhoruroh (diketahui oleh semua). Jenis-jenis kekufuran baik berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk di antaranya (kekufuran atau kemurtadan), bahkan kami pun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan.”[32]

NEJED, TEMPAT KELUARNYA TANDUK SETAN

Pada hlm. 151-152 penulis membawakan hadits bahwa sumber fitnah berasal dari Nejed, dan dari Nejed muncul dua tanduk setan, sehingga pada hlm. 156 penulis menukil ucapan Sayyid Alwi al-Haddad bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah al-Kadzdzab dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jawaban: [33]

Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara penulis di atas bukanlah suatu hal yang baru, melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang mempromosikan kebohongan ini, dari orang-orang yang hatinya disesatkan Alloh. Semuanya berkoar bahwa maksud “Nejed” dalam hadits-hadits di atas adalah Hijaz dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab!!!

Kebohongan ini sangat jelas sekali bagi orang yang dikaruniai hidayah ilmu dan diselamatkan dari hawa nafsu, ditinjau dari beberapa segi:

1. Hadits itu saling menafsirkan

Bagi orang yang mau meneliti jalur-jalur hadits ini dan membandingkan lafazh-lafazhnya, niscaya tidak samar lagi bagi dia penafsiran yang benar tentang makna Nejed dalam hadits ini. Dalam lafazh yang dikeluarkan al-Imam ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir: 12/384 no. 13422 dari jalur Ismail bin Mas’ud dengan sanad hasan: Menceritakan kepada kami Ubaidulloh bin Abdillah bin Aun dari ayahnya dari Nafi’ dari lbnu Umar dengan lafazh:

“Ya Alloh berkahilah kami dalam Syam kami, ya Alloh berkahilah kami dalam Yaman kami.” Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Dalam Irak kami?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.”

Syaikh Hakim Muhammad Asyrof menulis buku khusus mengenai hadits ini berjudul Akmal al-Bayan fl Syarhi Hadits Najd Qornu Syaithon. Dalam kitab ini beliau mengumpulkan riwayat¬riwayat hadits ini dan menyebutkan ucapan para ulama ahli hadits, ahli Bahasa, dan ahli geografi, yang pada akhirnya beliau membuat kesimpulan bahwa maksud Nejed dalam hadits ini adalah Irak. Berikut kami nukilkan sebagian ucapannya, “Maksud dari hadits-hadits di muka bahwa negeri-negeri yang terletak di timur kota Madinah Munawwaroh[34] ; adalah sumber fitnah dan kerusakan, markas kekufuran dan penyelewengan, pusat kebid’ahan dan kesesatan. Lihatlah di peta Arab dengan cermat, niscaya akan jelas bagi Anda bahwa negara yang terletak di timur Madinah adalah Irak saja, tepatnya kota Kufah, Bashrah, dan Baghdad.”[35]

Dalam tempat lainnya beliau mengatakan, “Ucapan para pensyarah hadits, ahli Bahasa, dan pakar geografi dapat dikatakan satu kata bahwa Nejed bukanlah nama suatu kota tertentu, namun setiap tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya maka ia disebut Nejed.”[36]

2. Sejarah dan fakta

Sejarah dan fakta lapangan membuktikan kebenaran hadits Nabi di atas bahwa Irak adalah sumber fitnah[37] baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, seperti keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, Perang jamaI, Penang Shiffin, fitnah Karbala, tragedi Tatar. Demikian pula munculnya kelompok-kelompok sesat seperti Khowarij yang muncul di kota Haruro’ (kota dekat Kufah), Rofidhoh (hingga sekarang masih kuat), Mu’tazilah, jahmiyyah, dan Qodariyyah, awal munculnya mereka adalah di Irak sebagaimana dalam hadits pertama Shohih Muslim.

3. Antara kota dan penghuninya

Anggaplah seandainya “Nejed” yang dimaksud oleh hadits di atas adalah Nejed Hijaz, tetap saja tidak mendukung keinginan mereka, sebab hadits tersebut hanya mengabarkan terjadinya fitnah di suatu tempat, tidak memvonis perorangan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terjadinya fitnah di suatu tempat tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat tinggal di tempat tersebut.

Demikianlah -wahai saudaraku seiman- keterangan para ulama ahli hadits tentang hadits ini, maka cukuplah mereka sebagai sumber tepercaya!

PENUTUP

Demikianlah sekelumit yang dapat kami bahas tentang buku ini. Sebenarnya masih sangat banyak tuduhan-tuduhan dusta dan penyimpangan yang ada dalam buku ini, namun semoga apa yang sudah kami paparkan dapat mewakili lainnya.[38] Kesimpulannya, buku ini harus diwaspadai oleh setiap orang dan sebagai gantinya hendaklah membaca buku-buku yang bermanfaat. Wallohu A’lam

Sumber : Majalah Al-Furqon Edisi 12 Th. ke-10 Rojab 1432 H [Juni-Juli 2011]

Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com, disalin dari abangdani

———

Catatan kaki:

[1] Lihat Syarh Aqidah Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hlm. 22-24, bahkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan dalam aqidah beliau tersebut, “Saya tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat MakhlukNya karena tidak ada yang serupa denganNya.”

[2] Thobaqot Hanabilah Kar. Al-Qodhi Ibnu Abi Ya’la : 1/283-284, Siyar A’lam Nubala’ Kar. Adz-Dzahabi: 3/3293, Manaqib Aimmah Arba’ah kar. Ibnu Abdil Hadi hlm. 121, I’tiqad Imam Syafi’i kar. Al-Hakkari hlm 21.

[3] Mukhtashar Al-‘Uluw hal. 278-279

[4] Syarah Ushul I’tiqad Ahli Sunnal Wal Jama’ah kar. Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam kar. Al-Harowi: 4/390

[5] Syarah ushul I’tiqad kar. Al-Lalikai: 937, Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah kar. Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi: 1/85

[6] Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad menulis sebuah kitab berjudul Al-Qaulus Sadid fir Roddi ‘ala Man Ankaro Taqsima Tauhid (Bantahan Bagus Terhadap Para Pengingkar Pembagian Tauhid) Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan dalil-dalil dan ucapan-ucapan ulama salaf yang menegaskan adanya pembagian tauhid ini dan membantah sebagian kalangan yang mengatakan bahwa pembagian tauhid ini termasuk perkara bid’ah.

[7] Lihat At-Tahdzir min Mukhtashorot Ash-Shobuni fi Tafsir. Hlm 331 –Ar-Rudud- oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dan Adhwaul Bayan kar. Imam Asy-Syinqithi: 3/488-493.

[8] Lihat al-Mawahib ar-Rabbaniyyah min al-Ayat al-Qur’aniyyah kar. Syaikh Abdurrohman as-Sa’di him. 60.

[9] Min Kunuz al-Qur’an al-Karim kar. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad: 1/149

[10] AI-Majmu’ fi Tarjamah Muhaddits Hammad al-Anshari: 2/531

[11] HR. Muslim: 2699

[12] Saya katakan “mayoritas” karena sebagian ulama mengatakan bahwa Syaikh Sulaiman tetap dalam permusuhannya, di antaranya adalah Syaikh Abdulloh al-Bassam dalam Ulama Nejed: 1/305 dan sepertinya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad dalam Da’awi al Munawi’in hlm. 41-42 cenderung menguatkan pendapat ini.

[13] Tarikh Nejed : 1/143

[14] Unwan Majd hlm. 65

[15] Dalam makalahnya “Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh Muftaro ‘Alaihi” dimuat dalam Majalah Buhuts Islamiyyah, edisi 60/Tahun 1421 H

[16] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum hlm. 48-50

[17] Al-Asinnah Al-Haddad hlm. 12-13

[18] Lihat Majmu’ah Muallafat Syaikh: 5/25, 48, 100, 189 dan 3/11. Lihat buku khusus masalah ini berjudul Manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab fi Takfir – kata pengantar Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql

[19] Majmu’ah Muallafat Syaikh : 5/11, 12

[20] Ibid. 5/36

[21] Al-Hadiyyah As-Saniyyah hlm. 40

[22] Al-Asinnah Al-Haddad fi ar-Raddi ‘ala Alwi Al-Haddad hlm. 56-57 secara ringkas

[23] Iqtidho Siroth Mustaqim : 2/281

[24] Al-Kafiyah Asy-Syafiyah no. 198

[25] Lihat ad-Daulah al-Utsmaniyyah kar. Dr Jamal Abdul Hadi hlm. 94 sebagaimana dalam ad-Daulah al-Utsmaniyyah Awamilin wa Asbabis Suquth kar. Dr. Ali Muhammad Ash-Sholabi (terj. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Khalifah Utsmaniyyah)

[26] Ibid. hlm. 95

[27] Ibid. hlm. 158

[28] Ibid. hlm. 156

[29] Lihat Al-A’lam Al-Arobi fi tarikh hadits dan Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wa Atsaruhu fi Alam Islami karya Dr. Shalih Al-‘Abud

[30] Lihat Pusaka Indonesia Riwayat Hidup Orang-orang Besar Tanah Air oleh Tamar Djaja cet. VI, 1965, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, hlm. 339 dst.

[31] Dinukil dari tulisan Al-Ustadz Abu Salma berjudul “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Mata Para Peneyesat Ummat” yang dimuat dalam Majalah Adz-Dzakhiirah Edisi 17, Dzulqa’dah 1426 H.

[32] Ad-Durar As-Saniyyah : 10/275-276 cet. kelima

[33] Disadru dari kitab Al-Iroq Fi Ahadits Wa Atsar Al-Fitan oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Al Salman cet. Maktabah Al-Furqon.

[34] “Ungkapan yang populer di kalangan ahli sejarah dan ahli hadits adalah Madinah Nabawiyyah. Adapun menyebutnya dengan Munawwaroh, maka saya belum mengetahuinya kecuali dalam kitab-kitab orang belakangan.” Demikian dikatakan Syaikh Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid dalam Juz fi Ziyaroh Nisa’ Lil Qubur hlm. 5.

[35] Akmal Bayan hlm 16-17 tahqiq Abdul Qadir As-Sindi, cet. Pertama , Pakistan 1402 H, dari Da’awi al-Munawi’in hlm. 190-191

[36] Ibid. hlm. 21

[37] Oleh karenanya para ulama menjadikan hadit ini sebagai salah satu tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad –shallallohu ‘alaihi wa sallam-. Lihat Umdatul Qori kar. Al-‘Aini 24/200 dan Silsilah Ash-Shohihah : 5/655, Takhrij Hadits Fadhoil Syam kar. Al-Albani hlm. 26-27

[38] Bagi anda yang ingin mengetahui bantahan syubhat dan tuduhan secara lebih lengkap, silakan membaca kitab Da’awi al-Munawi’in ‘an Da’wati Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kar. Dr. Abdul Aziz Abdul Lathif dan buku kami Meluruskan Sejarah Wahhabi cet. Pustaka Al-Furqon
Baca SelengkapnyaStudi Kritis Atas Kesesatan Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” [HOT!!]

Minggu, 03 Juli 2011

Pengharaman Syirik dan Penjelasan bahwa Syirik termasuk Dosa Besar yang Paling Besar

1. DALIL AL QUR'AN

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An Nisaa' : 48)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (Q.S. An Nisaa' : 116)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (Q.S. Al Maidah : 72)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Q.S. Az Zumar : 65)

2. DALIL AS SUNNAH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : " Jauhilah tujuh perkara muubiqaat (yang mendatangkan kebinasaan) ! ". Para shahabat bertanya: 'Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rasulullah ?'. Rasulullah menjawab: 'Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan syari'at, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu dengannya ' ". (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar ? ". ' Tentu saja wahai Rasulullah ! ', jawab mereka. Rasulullah berkata: 'Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, - saat itu beliau duduk bersandar lalu beliau tegak seraya berkata:- ' Dan ingatlah, yang ketiga adalah perkataan dusta !'. Beliau terus mengulanginya hingga kami berharap beliau diam ". (HR Bukhari dan Muslim)
Perkataan shahabat: "Sehingga kami berharap beliau diam (menghentikan ucapan tersebut)" karena rasa kasih sayang mereka kepada Rasulullah dan takut kalau hal itu menyusahkan beliau.

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam : " Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ? ". Beliau menjawab : ' Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia lah yang menciptakanmu ! '. ' Kemudian apa lagi ? ', tanyaku lagi. Beliau menjawab : ' Engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia makan bersamamu (takut miskin - pen) '. ' Kemudian apa lagi ? ', tanyaku lagi. Beliau menjawab : ' Engkau berzina dengan istri tetanggamu ' ". (HR Bukhari dan Muslim)


3. FAWA'ID / KANDUNGAN BAB

a. Barangsiapa mati dalam keadaan kafir, musyrik atau murtad, maka seluruh amal-amal taqarrubnya tidak sah, seperti sedekah, silaturrahim, memelihara hak tetangga dan amal lainnya. Salah satu syarat taqarrub adalah mengetahui kepada siapa ia mempersembahkan amal taqarrubnya itu. Sementara orang kafir tidak memenuhi syarat ini, dengan demikian amalnya terhapus.

Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah : 217)

Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Q.S. Al Maidah : 5)

b. Orang-orang yang mati di atas kekufurannya sementara mereka mengerjakan beberapa amalan yang terpuji, Allah tidaklah menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan membalasnya untuk mereka di dunia.

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? (Q.S. Huud : 15-16)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Sesungguhnya Allah tidak akan menzhalimi kebaikan yang telah dilakukan oleh seorang mukmin. Allah akan membalasnya (dalam riwayat lain disebutkan, Allah akan mengganjarnya) berupa rizki di dunia, lalu membalasnya kelak di akhirat. Adapun orang kafir, diberi rizki atas kebaikan yang mereka lakukan di dunia, hingga di akhirat nanti ia tidak memiliki satupun kebaikan untuk diberikan balasan " (HR Muslim)

c. Apabila orang kafir masuk Islam dan mati dalam keadaan beriman, maka Allah akan menghapus kesalahannya dan menuliskannya pahala atas kebaikan yang dilakukannya pada masa Jahiliyyah.

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Apabila seorang hamba masuk Islam dan baik keislamannya, maka Allah akan menuliskan baginya pahala atas kebaikan yang dahulu ia kerjakan dan dihapus kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu. Kemudian setelah perhitungan itu, setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Demikian pula halnya dengan kejahatan, kecuali bila Allah mengampuninya " (Shahih, diriwayatkan oleh Al Bukhari secara mu'allaq).

Diringkas dari ENSIKLOPEDIA LARANGAN Jilid 1 - Pustaka Imam Asy Syafi'i
Mausuu'ah al-Manaahiyyiys Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Daar Ibnu 'Affan Th. 1419H
Baca SelengkapnyaPengharaman Syirik dan Penjelasan bahwa Syirik termasuk Dosa Besar yang Paling Besar

LARANGAN BERFATWA TANPA ILMU

1. DALIL AL QUR'AN

Allah Ta'ala berfirman : " Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa
yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram",
untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang
yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (Q.S.
An Nahl : 116)

2. DALIL AS SUNNAH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa diberi fatwa
tanpa ilmu maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa tersebut.
Barangsiapa menganjurkan satu perkara kepada saudaranya seagama
sementara ia tahu bahwa ada perkara lain yang lebih baik berarti ia
telah mengkhianatinya " [Hadits hasan, dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam
al Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, ad Darimi, al Hakim, al
Khathib al Baghdadi dan selainnya.

Diriwayatkan dari 'Atha' bin Abi Rabah, ia berkata : "Aku mendengar Ibnu
'Abbas radhiyallaahu 'anhu menceritakan tentang seorang lelaki di zaman
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang terluka pada bagian kepalanya,
kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun
mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah
beritanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka beliau
bersabda : "Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka.
Bukankah bertanya merupakan obat kebodohan ?! " [Shahih diriwayatkan
oleh Ibnu Majah, ad Daraquthni, al Hakim, ath Thabrani, Abu Nu'aim.

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, ia berkata :
"Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang
tidak tahu hendaklah mengatakan : Allahu a'lam. Sebab termasuk ilmu
adalah mengatakan aku tidak tahu dalam perkara yang tidak ia ketahui
ilmunya. Sebab Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya : "Katakanlah (hai
Muhammad), 'Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku;
dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan " (Q.S. Shaad
: 86) [HR Al Bukhari dan Muslim]

3. FAWAID / KANDUNGAN BAB

a. Seorang mufti berbicara atas nama Allah, maka hendaklah ia
berhati-hati agar tidak berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Orang yang
diangkat sebagai juru bicara Allah haruslah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya, ia harus menyadari betapa agung kedudukannya tersebut.
Janganlah dadanya merasa berat untuk mengatakan kebenaran dan
menyatakannya. Karena sesungguhnya Allah menolongnya dan menunjukinya.
Bagaimana tidak, itulah kedudukan yang Allah sendirilah yang
menanganinya, Dia berfirman : " Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang
para wanita. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka,
dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur'an " (Q.S. An Nisaa : 127)

Cukuplah sebagai bukti kehormatan dan kemuliaan tugas tersebut bahwa
Allah sendirilah yang menanganinya. Allah berfirman : " Mereka meminta
fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah... " (Q.S. An Nisaa : 176)

Hendaklah seorang mufti mengetahui siapakah yang ia wakili dalam
fatwanya. Dan hendaklah ia sadari bahwa ia akan dimintai
pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah Ta'ala.

b. Oleh sebab itu para ulama Salaf sangat takut mengeluarkan fatwa.
Mereka sadar betul kedudukannya serta bahaya bila memang tidak mampu.
Mereka tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tidak mau
mengelurkan fatwa hingga mereka anggap sudah layak untuk berfatwa. Namun
mereka lebih suka dilepaskan dari tugas tersebut. Diriwayatkan dari
Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata : " Aku telah bertemu dengan
seratus dua puluh orang Sahabat Nabi dari kalangan Anshar, tidaklah
salah seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah melainkan ia
berharap temannya yang lainlah yang menjawabnya. " [Riwayat Shahih,
diriwayatkan oleh ad Darimi, Ibnu Sa'ad, Ibnul Mubarak, al Fasawi dan
selainnya. ]

c. Oleh karena itu hendaklah orang-orang jahil menjauhi kedudukan
ini, khususnya dari kalangan fuqaha dan orang-orang yang mengaku
berilmu, namun sebenarnya tidak punya ilmu; yang cepat sekali
mengeluarkan fatwa karena takut dibilang bodoh atau karena ingin
mendapat perhatian dalam majelis.

d. Ketahuilah wahai hamba Allah, mengeluarkan fatwa berarti engkau
telah berbicara atas nama Allah tentang perintah dan larangan-Nya. Dan
engkau akan ditanya dan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh sebab itu,
bila engkau ditanya tentang suatu masalah maka jangan pikirkan
keselamatan si penanya, namun pikirkanlah dulu keselamatan dirimu. Jika
engkau mampu menjawabnya, maka jawablah ! Jika tidak mampu, maka lebih
baik diam. Sebab, menahan diri dalam kondisi seperti itu lebih selamat,
lebih bijaksana dan lebih menunjukkan kedalaman ilmumu !

Wahai para mufti, periksalah benar-benar fatwa yang engkau keluarkan.
Engkau telah membawa dirimu kepada perkara yang sangat berbahaya,
janganlah engkau keluarkan fatwa kecuali bila keadaan sangat darurat.

Suatu hari Al Qasim bin Muhammad pernah ditanya lalu ia menjawab:
'Allahu a'lam '. Kemudian ia berkata: "Demi Allah, lebih bagus seseorang
itu hidup jahil, setelah mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, daripada
mengatakan apa yang tidak ia ketahui " [Riwayat Shahih, diriwayatkan
oleh ad Darimi, Abu Khaitsamah, al Khathib al Baghdadi dan al Fasawi]


ENSIKLOPEDIA LARANGAN - JILID 1. Pustaka Imam Asy Syafi'i Mausuu'ah
al-Manaahiyyiys Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah Syaikh
Salim bin 'Ied al-Hilali Daar Ibnu 'Affan Th. 1419 H
Baca SelengkapnyaLARANGAN BERFATWA TANPA ILMU

Jumat, 01 Juli 2011

Proses Dan Perkembangan Janin Di Rahim

Saat yang dinanti sepasang suami-isteri, dari perwujudan buah percintaan kasih-sayang sekian waktu, yaitu ketika rahim sang isteri mengandung janin calon bayi. Sungguh terasa sebagai anugerah indah tiada tara dari Allah Azza wa Jalla. Gerakan-gerakan kecil menyentak dinding perut sang ibu. Betapa bahagia calon orang tuanya. Ingin segera mengasuh dan merawatnya.


Itulah kebesaran Allah Azza wa Jalla sebagai bukti kekuasaan Nya kepada manusia. Agar mereka banyak bersyukur. Di dalam al-Qur'an Allah Azza wa Jalla telah berfirman

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُم بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Dan mereka berkata, "Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?" Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Rabbnya. [As Sajdah : 7-10]

Firman Allah yang lain tentang penciptaan manusia ialah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkanNya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). [Al Mu'min : 67].

TAHAPAN PERKEMBANGAN JANIN
Setelah terjadi pembuahan yang ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla hingga berproses menjadi seorang anak, mulailah sang ibu mengalami perubahan-perubahan di rahimnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu hadits shahih bersabda.

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya." [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu].

Dilihat dari perkembangan ilmu medis sekarang ini, jelas hadits tersebut akan dibenarkan para ilmuwan, karena tidaklah jauh berbeda dengan penemuan-penemuan mereka. Disebutkan pula, bahwa pada kehamilan antara 8 sampai 10 pekan (sekitar 56-70 hari) pembuluh darah janin mulai terbentuk. Dengan alat-alat modern seperti alat perekam jantung bayi (elektrokardiografi/EKG untuk bayi) dan ultrasonografi (USG) dapat diketahui sedini mungkin, apakah jantung bayi sudah berdenyut atau belum. Umumnya denyut jantung bayi dapat diketahui dan dicatat pada pekan ke 12 (lebih kurang 84 hari). Tetapi dengan alat sederhana, baru terdengar pada kehamilan 20 pekan (kira-kira 140 hari). Dibuktikan bahwa kira-kira pada kehamilan 10 pekan (kira-kira 70 hari) sudah mulai terbentuk sistem jantung dan pembuluh darah.

Sejak umur kehamilan 8 pekan (kira-kira 56 hari) mulai terbentuk hidung, telinga, dan jari-jari dengan kepala membungkuk ke dada.

Setelah 12 pekan (84 hari) telinga lebih jelas, tetapi mata masih melekat. Leher sudah mulai terbentuk, alat kelamin sudah terbentuk tetapi belum begitu nampak. Baru setelah 16 pekan (112 hari) alat kelamin luar terbentuk, sehingga dapat dikenali dan kulit janin berwarna merah tipis sekali. Pada umumnya plasenta atau ari-ari sudah terbentuk lengkap pada 16 pekan.

Menginjak kehamilan 24 pekan (168 hari), kelopak mata sudah terpisah. Ditandai dengan adanya alis dan bulu mata. Maha luas ilmu Allah k dalam segala penciptaanNya.

Apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits tersebut memang benar adanya. Manusia baru membuktikannya pada abad ini. Padahal kebenaran ayat-ayat Allah Azza wa Jalla sudah disampaikan puluhan abad lalu; sebagai bukti, bahwa Allah k telah menciptakan manusia dari segumpal darah (alaqah) 40 hari, setelah terbentuknya air mani. Hal ini bisa diketahui oleh ahli medis, bahwa kurang lebih umur 56-70 hari pembuluh darah janin mulai terbentuk..Kemudian ada gerakan-gerakan. Gerakan inilah yang mungkin terdeteksi oleh alat-alat kedokteran modern sebagai denyut jantung janin. Namun berdasarkan dhohir hadits, bahwa ruh ditiupkan pada saat janin berumur lebih dari 120 hari. Wallahu a’lam

MENENTUKAN USIA KEHAMILAN
Seringkali ibu hamil tidak mengetahui secara pasti berapa usia kehamilannya. Ini dapat dimaklumi, mengingat waktu terjadinya pembuahan sering tidak dapat diketahui secara pasti. Tidak demikian halnya, bila sepasang suami-isteri terakhir berhubungan tanpa melakukannya lagi, dan diketahui sang isteri langsung terlambat haid, serta mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Maka, usia kehamilannya langsung dapat diketahui.

Rahim (uterus) wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Bila terjadi kehamilan, rahim tumbuh secara teratur. Kecuali jika ada gangguan pada kehamilan tersebut.

Pada kehamilan 8 pekan (kurang lebih 2 bulan), rahim membesar sebesar telur bebek, kemudian pada kehamilan 12 pekan kira-kira 3 bulan membesar seperti telur angsa. Pada saat inilah puncak rahim atau fundus uterus dapat diraba dari luar.

Secara syariat tidak ada cara khusus untuk menentukan umur kehamilan wanita. Namun secara medis ada cara-cara tertentu, untuk mengetahui usia kehamilan walaupun hanya perkiraan.

Ada tiga cara untuk memperkirakan usia kehamilan. Dengan mengukur tinggi dari puncak rahim. Yaitu bagian tertinggi puncak rahim yang menonjol di dinding perut. Kadang terasa keras karena terasa kepala, atau lunak apabila teraba pantat janin.

Pertama : Menggunakan Ukuran Sentimeter.
Apabila jarak dari tulang kemaluan sampai puncak rahim menunjukkan lebih kurang 25 cm, berarti usia kehamilan 28 pekan (kira-kira 7 bulan). Apabila 27 cm, lebih kurang 32 pekan (kira-kira 8 bulan). Terukur 30 cm, menunjukkan umur 36 pekan (kira-kira 9 bulan).

Pada kehamilan 40 pekan (lebih kurang 9 bulan lebih), puncak rahim turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari di bawah tulang dada, yang terletak di tengah-tengah melekatnya beberapa tulang rusuk. Ukuran ini tidak akan bertambah, walau usia kehamilan mencapai 40 pekan. Jika tingginya bertambah, kemungkinan bayi besar, kembar atau cairan tubuh berlebih.

Kedua : Menghitung Dengan 2 Jari Tangan.
Setiap pertambahan selebar 2 jari tangan menunjukkan pertumbuhan 2 pekan. Perhitungan ini digunakan jika jarak antara tulang kemaluan dengan puncak rahim masih di bawah pusar. Sebaliknya, jika jarak tulang kemaluan dengan puncak rahim sudah di atas pusar perhitungan 2 jari, menunjukkan pertambahan 4 pekan.

Ketiga : Memperkirakan kalau tinggi puncak rahim sudah tepat di pusar, itu menunjukkan usia kehamilan 5 bulan-6 bulan. Sementara, jika puncak rahim sudah sampai di tengah antara tulang dada dan pusar, menunjukkan usia kehamilan kira-kira 7 bulan. Apabila puncak rahim sudah mencapai dada, diperkirakan usia kehamilan 9 bulan. Hasil pengukuran ini akan meragukan, jika ibu hamil terlalu gemuk atau otot perut tegang.

Jika calon ibu sudah mulai dapat merasakan gerakan janin, diperkirakan usia kehamilan mencapai 18 pekan (kira-kira 4,5-5 bulan). Tetapi pada kehamilan kedua, gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16 pekan.

GANGGUAN PADA PEMBENTUKAN JANIN
Terkadang seorang wanita yang positif hamil, hasil pembuahannya bisa mengalami gangguan. Atau pembentukan janin tidak berlanjut. Ada beberapa jenis gangguan yang berhubungan dengan hasil pembuahan. Sebagian besar dengan keluhan pendarahan. Macam-macam gangguan pada pembentukan janin diantaranya ialah :

Abortus (Keguguran).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan, sebelum janin mampu hidup di dunia luar. Rata-rata dengan umur kehamilan kurang dari 22 pekan (kurang dari 5 bulan), dengan berat badan kurang dari 500 gr. Sebab-sebab terjadinya keguguran, bisa diakibatkan karena kelainan zigote. Yaitu kelainan hasil penyatuan dari sel sperma (sel kelamin laki-laki) dan ovum (sel kelamin perempuan).

Adanya gangguan di selaput lendir dalam rahim (endometrium), juga bisa mengakibatkan keguguran. Hal ini karena masuknya ovum yang telah dibuahi ke dalam rahim tersebut, mengalami gangguan. Atau gangguan tersebut terjadi dalam pertumbuhan embrio.

Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan fungsi selaput lendir rahim tersebut ialah kelainan hormonal, gangguan nutrisi. Contohnya, anemia berat, penyakit menahun, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi gizi penderita. Juga penyakit infeksi, kelainan imunologik (misalnya gangguan darah, faktor rhesus, dsb.). Selain itu, faktor psikologis (mental) seorang wanita juga dapat mempengaruhi gangguan di rahimnya.

Kehamilan Diluar Kandungan (Kehamilan Ektopik)
Kehamilan ini terjadi, apabila ovum yang dibuahi masuk dan tumbuh tidak di tempat yang normal di dalam rahim. Tempat-tempat tersebut bisa di saluran telur, rahim yang bukan tempat kebiasaan janin untuk tumbuh, di tempat indung telur (organ penghasil telur), diantara jaringan ikat yang berbentuk seperti tali penghubung organ-organ tertentu dengan rahim.

Kehamilan diluar kandungan bisa juga terjadi di dalam rongga perut. Tempat pertumbuhan janin yang tidak sempurna menyebabkan kematian janin. Atau janin tidak tumbuh secara normal. Kondisi seperti inilah oleh tim medis harus dilakukan operasi segera; apalagi untuk janin yang masih hidup. Mengingat resiko pendarahan bagi wanita yang mengalami kehamilan ektopik tersebut. Biasanya kehamilan seperti ini sering berakhir setelah umur 6-8 pekan. Ada yang sampai 10 pekan, dan ada juga yang berakhir sampai pada umur 5-6 bulan pada janin yang berkembang di perut (abdomen). Tetapi biasanya meninggal atau cacat.

Kehamilan Anggur (Mola Hidatidosa)
Kehamilan ini adalah kehamilan abnormal. Pada kehamilan biasa, embrio tumbuh terus menjadi janin dan kemudian dapat dilahirkan sebagai bayi. Adapun pada kehamilan anggur ini, perkembangan sel ovum bukan menjadi embrio. Tetapi menjadi bentuk seperti anggur. Biasanya tidak ada tanda-tanda kehidupan pada janin.

Kehamilan anggur ini bisa berkembang menjadi tumor ganas. Kelainan bentuk rahim juga dapat menghalangi berkembangnya janin secara sempurna.

PENUTUP
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan seorang wanita, yang secara fitrah berlainan dengan laki-laki. Dengan fitrahnya, disiapkanlah seorang wanita yang siap untuk mengandung dan melahirkan. Yang akhirnya akan mengasuh anak yang telah dilahirkannya sebagai calon generasi penerus.

Berkenaan keadaan fitrahnya tersebut, wanita juga mendapatkan hukum-hukum tersendiri berkenaan dengan keadaan organ rahim yang dimilikinya. Sehingga seorang wanita bisa berbeda dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dikarenakan sebab hukum haid, nifas, atau istihadhah yang terjadi pada dirinya. Ataupun sebab kehamilannya.

Oleh karena itu, kita harus merujuk kepada ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta para ulama fiqh yang bermanhaj salaf yang telah membahasnya panjang lebar berkenaan kondisi fitrah seorang wanita. Wallahu a'lam. (dr. Ummu Muhammad)

Maraji'
- Ilmu Kebidanan, Prof. Sarwono P, Yayasan Bina Pustaka FKUI, 1994.
- Ilmu Kandungan, Prof. Sarwono P, Yayasan Bina Pustaka FKUI, 1991.
- Indeks Al Qur'an, Yusuf Rocy Asyarif. S, Penerbit Pustaka Salman ITB, 1984.
- Kamus Istilah Kedokteran, Penerbit FKUI, 1984.
- Al Qur'nul Karim, terjemahan.
- Fatwa-fatwa Tetantang Wanita Edisi Indonesia. Penerbit Darul Hak Jakarta.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VI/1423H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
Baca SelengkapnyaProses Dan Perkembangan Janin Di Rahim